Chat
Viding is an integrated wedding digitalization platform that makes your wedding more efficient, effective, meaningful, and up-to-date
Registered with Indonesia’s Ministry of Communication and IT of the Republic of Indonesia
Viding's Commitment to SDGs






© Copyright 2024. PT Aku Bisa Ibadah. All Rights Reserved
Legal Statement
Privacy Policy

Informasi Umum
Membandingkan pasangan dengan orang lain—baik teman, mantan, atau pasangan orang lain di media sosial—adalah hal yang sangat umum. Namun, penelitian terbaru dari Journal of Social and Personal Relationships (2023) menunjukkan bahwa kebiasaan ini dapat menurunkan kepuasan hubungan dan meningkatkan stres serta kecemburuan.
Penelitian ini melibatkan 600 pasangan dewasa yang menikah antara 1–10 tahun. Peneliti memantau frekuensi membandingkan pasangan, kepuasan hubungan, dan tingkat stres yang muncul akibat perilaku ini. Berikut hasil penelitian yang dikemas agar mudah dipahami.
Sekitar 45% pasangan membandingkan pasangannya 2–3 kali per minggu.
Media sosial adalah sumber utama perbandingan, terutama Instagram dan TikTok.
Lingkaran sosial dekat, seperti teman atau keluarga, juga memengaruhi kebiasaan ini.
Pasangan yang sering membandingkan cenderung lebih tidak puas dengan hubungan mereka.
Mereka merasa pasangan mereka kurang sempurna atau hubungan mereka “tidak cukup baik”.
Dampak ini lebih kuat pada pasangan yang menikah kurang dari 5 tahun.
Membandingkan pasangan secara rutin meningkatkan stres dan rasa cemburu.
Stres ini menjadi salah satu alasan utama kepuasan hubungan menurun.
Persentase dampak emosional:
Kurang dihargai: 52%
Iri/cemburu: 48%
Stres/tekanan: 42%
Tidak semua perbandingan berdampak negatif.
Jika digunakan untuk belajar memperbaiki diri dan hubungan, perbandingan ini tidak menurunkan kebahagiaan.
Contoh perbandingan konstruktif: Melihat pasangan lain sebagai inspirasi untuk menghargai pasangan sendiri lebih baik.
Berikut cara sederhana agar hubungan tidak terganggu oleh kebiasaan membandingkan pasangan:
Batasi membandingkan pasangan dengan orang lain.
Kurangi konsumsi media sosial yang memicu perbandingan.
Fokus pada komunikasi dan apresiasi satu sama lain.
Gunakan perbandingan secara reflektif untuk meningkatkan diri sendiri, bukan menilai pasangan secara negatif.
Membandingkan pasangan terlalu sering dapat menurunkan kepuasan hubungan, meningkatkan stres, dan menimbulkan rasa cemburu.
Dampak lebih terasa pada pasangan yang menikah kurang dari 5 tahun.
Perbandingan reflektif atau konstruktif bisa netral atau bahkan positif.
Fokus pada komunikasi, apresiasi, dan kualitas internal hubungan lebih penting daripada membandingkan pasangan dengan orang lain.
Dengan memahami hal ini, pasangan bisa membangun hubungan yang lebih sehat, harmonis, dan tahan lama tanpa terbebani ekspektasi dari perbandingan sosial.
Apakah kamu sering merasa membandingkan pasangan sendiri dengan orang lain? Cobalah tips di atas dan rasakan perbedaannya! đź’–
Jangan lupa bagikan artikel ini kepada temanmu yang juga ingin membangun hubungan lebih sehat, dan komen pengalamanmu tentang membandingkan pasangan!
Sumber:
Journal of Social and Personal Relationships (2023). Comparing Your Partner: The Impact of Social Comparison on Romantic Relationship Satisfaction.
Don’t miss out on the latest trend updates

Don’t miss the latest information and inspiration!
Sign up now and get exciting updates delivered straight to your email